when the day met the night

hehehe..kebetulan aku lagi sukaaaa bgt sama satu lagunya Panic at the Disco yang judulnya sama..so..i decided to make a short story version of that song..jarang2 nih nulis cerpen..jadi mohon jangan diketawain yahh =P. harusnya emang ga aku campur di blog ini sih, tapi nanti aja d kalo udah bikin cerpen lagi baru aq pisahin..
so..here we gooo..

Erick melihat jam di tangannya untuk kesekian kalinya. Mungkin sebentar lagi,pikirnya. Mungkin gadis itu terjebak kemacetan atau mampir sebentar dalam perjalanannya.
Atau mungkin ia tidak datang, sahut sebuah suara dalam benaknya.
Tidak. Ia selalu datang. Setiap hari jam 5sore tepat, gadis itu akan duduk di cafe The Summer yang terletak diseberang tempatnya bekerja. Ia akan duduk di kursi dibawah pohon berdaun hijau yang Erick tidak tahu namanya. Lalu ia akan memesan secangkit teh Earl Grey dan duduk disana membaca buku.
Kursi yang sama, waktu yang sama, kegiatan yang sama.
Gadis itu. Gadis yang membuatnya bertahan bekerja sebagai kasir di minimarket 24 jam ini walau gajinya jelas tidak cukup menutupi uang kuliahnya. Ia harus bekerja paruh waktu di tempat lain agar perutnya tidak keroncongan.
Paling tidak aku dapat diskon 20% di minimarket ini, ia mencoba berpikir positif.
Setelah pulang kuliah, Erick bekerja shift mulai dari jam 2 siang hingga 7 malam. Lalu ia akan digantikan oleh seorang gadis manis bernama Stella pada shift berikutnya. Stella sudah berulangkali menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tertarik pada Erick dan memaksanya pindah ke shiftnya karena ia tidak bisa pindah ke shift Erick.
“Aku tidak bisa. Aku punya pekerjaan lagi waktu itu. Maaf, Stella.” itulah alasan yang biasa ia pakai.
“Huh..” Stella menampakkan muka cemberut yang sebenarnya malah membuatnya terlihat manis menurut semua orang.
“Lalu, Kau mau nonton Sabtu ini? Aku punya tiket lebih,” lanjut Stella.
“Maaf, aku ingin sekali pergi. Tapi aku tidak bisa, aku harus berlajar. Kau bisa ajak Ryan. Ia pasti akan dengan senang hati ikut.”
Erick bersungguh-sungguh. Ia harus belajar setiap hari Sabtu. Hanya itu waktu yang ia miliki untuk belajar dan mempertahankan nilai-nilainya serta beasiswanya. Dan ia juga tidak bohong soal Ryan. Ryan sudah lama naksir Stella.
“Kau bodoh,” Sahut Stella lalu pergi meninggalkan Erick untuk ganti baju.
Mungkin, Erick berkata dalam hati. Tapi jika memandang gadis yang bahkan tidak dikenalnya selama setahun terakhir adalah hal yang bodoh. Maka menjadi bodoh tidak terlalu buruk juga, pikirnya.
Kehidupan tidak pernah menjadi mudah bagi Erick. Keluarganya terlalu miskin dan terlalu lelah untuk memberinya masa kecil yang hangat. Mereka bahkan tidak sanggup memberi Erick dan adik-adiknya pakaian yang cukup hangat selama musim dingin. Saat Erick berhasil masuk ke universitas, semuanya seperti mimpi. Ia mendapat beasiswa yang harus ia pertahankan dengan nilai-nilainya. Tapi tetap ada uang sewa setiap bulan, kebutuhan buku, utang-utang keluarga yang harus dibayar dan biaya sekolah adik-adiknya yang harus ia pikirkan. Dan saat ia kecelakaan dan salah satu kakinya cacat, mendapatkan kerja sambilan jadi semakin sulit saja.
Maka saat seorang gadis lewat di depannya, dan memberinya ketenangan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya hanya dengan memandang mata gadis itu, ia tidak berpikir bahwa itu adalah hal yang bodoh.
Ia memang tidak percaya cinta pandangan pertama. Terlalu feminim menurutnya. Dan terlalu melankolis. Hidup telah mengajarkan Erick terlalu banyak untuk bisa percaya hal-hal picisan semacam itu. Namun, suatu sore saat sedang termenung sendiri memikirkan betapa mudahnya untuk menyerah, ia menemukan gadis itu. Atau mungkin gadis itu yang menemukannya, ia tidak tahu. Dan saat melihat matanya, Erick langsung tahu, kini ia memiliki sesuatu lagi untuk diperjuangkan.
Kemana ia? Ia telat sepuluh menit dari biasanya. Kursi dibawah pohon itu masih kosong. pemilik The Summer sudah menyisakannya khusus untuk gadis itu dan semua pengunjung tetap sepertinya dengan sukarela menyerahkan kepemilikan kursi itu padanya.
Mungkin ia benar-benar tidak datang sore ini, Erick mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan bon yang harus ia bereskan. “bon terkutuk,” ia mengumpat pelan.
Lalu seperti menjawab pertanyaan Erick, gadis itu datang. Saat Erick melihatnya, perutnya melilit oleh rasa bahagia. Sebuah perasaan aneh mengalir cepat dalam darahnya. Perasaan yang tidak perlu ia jelaskan karena bagian yang terbaik itu harus dirasakan.
Gadis itu bertubuh ramping dengan tinggi rata-rata. Rambutnya berwarna hitam gelap namun sangat bersinar. Kulitnya berwana krem yang menurut Erick seperti pasir. Atau seperti karamel? Tapi yang paling jelas adalah, gadis itu memiliki mata terindah yang pernah Erick lihat. warnanya hitam dan pandangannya begitu dalam. Seakan ia telah mengetahui jawaban hal-hal yang tidak terpecahkan di dunia ini. Dan semakin kau memandang matanya kau akan semakin tenggelam dalam lautan pemikiran tentang kehidupan.
“Permisi”
Hari ini ia mengenakan baju itu,pikir Erick. Erick tahu gadis itu selalu terlihat cantik. Tapi terusan berwarna daun musim gugur itu adalah kesukaan Erick.
“Pemisi”
Dan ia membaca To Kill a mockingbird hari ini. Erick telah membaca buku itu belasan kali dan sangat menyukainya. Apa kira-kira pendapatnya tentang buku itu. Mungkin ia punya pandangan lain tentang isu rasisme. Pasti suatu pandangan baru yang pintar.
“Well, aku tahu ia gadis yang cantik. tapi, tolong, aku harus buru-buru.” Seorang nenek telah berdiri di kasir dan sedang memandang ke arah yang sama dengan yang tadi Erick pandangi.
“Ahhhh, maafkan aku.” Erick tersentak kaget. Dengan terburu-buru ia menghitung belanjaan nenek itu.
“Tiga puluh ribu,” sahutnya.
Nenek itu menyerahkan uang lima puluh ribu kepadanya. Dan saat ia memberi kembalian, nenek itu menggeleng sambil tersenyum.
“Kau harus berbicara dengannya, kau tahu. Kau tidak bisa hanya memandangnya terus-terusan dan bertanya-tanya dalam hati. Ajak ia bicara, apa hal terburuk yang bisa terjadi?” katanya memandang Erick.
Lalu nenek itu pergi sambil menggumamkan sesuatu yang samar didengar Erick seperti “Dasar anak muda.”
Ia memandang gadis itu. Secangkir Earl Grey seperti biasa. Semua ini akhirnya membuatnya merasa lemah. Setelah menghadapi berbagai hal-hal terberat dalam hidup ini, ia tidak pernah menunjukkan sikap pengecut. Ia telah diperhadapkan dengan situasi yang mungkin akan membuat orang lain patah semangat, namun ia selalu berhasil melaluinya walau dengan tertatih-tatih. Seperti seorang pria sejati. Tapi kini? Ia selembek dan serapuh kertas basah.
ya, apa hal terburuk yang bisa terjadi?ia memikirkan perkataan nenek tadi.
Lalu benaknya memikirkan sesuatu seperti gadis itu akan terganggu lalu memutuskan tidak lagi pergi ke The Summer dan mencari tempat lain untuk menghabiskan sore. Cafe lain, kursi di bawah pohon yang lain, atau waktu yang lain.
Tidak. gadis itu harus datang setiap sore. Satu hal yang diketahui Erick namun ia tahu tidak ada orang lain yang menyadarinya adalah, setiap sore hari, gadis itu..bersinar. Tidak ada waktu lain yang lebih baik untuk menggambarkan gadis itu selain sore hari. Semburat cahaya keemasan matahari petang mengarah ke tempatnya duduk dan menyinari salah satu sisi tubuhnya. Gadis itu indah. Cantik bukan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Indah, pikir Erick.
Bukan berarti ia tidak pernah berpikir untuk menyapanya. Bukan berarti ia takut gadis itu langsung menolaknya begitu melihatnya. Ia adalah pria kikuk. Tidak jelek memang. Ia selalu memandang kaca kamar mandi di pagi hari dan tahu bahwa dirinya tidak buruk rupa. Tinggi di atas rata-rata. Kurus namun otot-otot nya terukir sempurna hasil kerja paruh waktunya selama bertahun-tahun, dimana ia tidak hanya duduk dan menjaga kasir. Kadang keadaan memang memaksanya menjadi kuli. Dan ia rasa kaki pincangnya sudah membaik setelah satu tahun ini. Namun, ia takut membuat gadis itu tidak nyaman.
Jadi ia menunggu.
Menunggu sambil membayangkan berbicara dengan gadis itu dan memainkan skenario bayangan dalam benaknya. Menerka-nerka siapa namanya, apa warna kesukaannya, dan mengapa ia selalu memilih kursi itu setiap hari di The Summer. Erick memang tidak mengenalnya. Tapi ia yakin gadis itu pasti punya kepribadian yang menyenangkan. Sulit membayangkan seseorang dengan mata sedalam itu bisa memiliki sifat yang tidak mempesona. Walau ia memang telah bertemu cukup banyak orang untuk tahu bahwa ia tidak bisa menilai seseorang dari penampilan luar.
Tapi ia tahu ia tidak bisa menunggu selamanya.
Sekarang atau lupakan saja, pikirnya.
Jadi dengan masih mengenakan seragam kasir ia melangkah keluar dari sana. Sekarang atau lupakan saja, ia mengulangi.
Jangan berpikir telalu banyak, pikirnya menguatkan hati. Jalan saja.
Ia berjalan menyeberangi jalan menuju gadis itu. Gadis itu mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dibacanya. Ada rasa terkejut yang ditangkap Erick dalam wajahnya. Tapi hal itu segera digantikan senyuman. Senyuman itu samar-samar terasa familier. Menggelitik suatu ingatan dalam benak Erick yang selama ini tidak pernah ia tahu ia miliki.
Dengan kikuk Erick mengucapkan selamat sore.
Gadis itu terdiam sesaat memandangnya.
“Kukira kau tidak akan pernah datang,” kata gadis itu seakan-akan ia telah lama menunggu Erick.
Erick memandangnya dengan bingung.
***
Lenna memandang pria di hadapannya. Hatinya dipenuhi kelegaan bahwa penantiannya selama satu tahun terakhir tidak sia-sia. Setiap hari ia berharap Erick akan segera mengingatnya. Ia duduk di tempat yang sama saat mereka pertama kali bertemu dua tahun yang lalu. Kursi ini juga tempat mereka menghabiskan sore bersama sebelum kecelakaan merenggut seluruh ingatan Erick tentang dirinya. Melupakan kenangan menyenangkan bahwa ia dan Lenna pernah bersama. Tapi bagi Lenna, kenangan itu terlalu indah untuk dianggap tidak pernah terjadi. Jika ia tidak bisa membuat Erick mengingatnya, maka ia akan membuat mereka mengulanginya lagi.
Jadi disinilah mereka, seperti dua tahun yang lalu .Semburat keemasan cahaya matahari petang menyinari mereka berdua. Café yang sama, kursi yang sama, dan waktu yang sama. Waktu saat sang siang bertemu sang malam. Dan mereka akan mengulangi cerita mereka dari awal.
***
this story is based on Panic at the Disco’s song: when the day met the night

2 thoughts on “when the day met the night

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s