Movie & book: The Help

“aku melihat gadis kecil dipukul gara-gara aku. aku melihat dia mendengar Miss Leefolt menyebutku kotor , berpenyakit. Aku ingin berteriak kencang-kencang supaya gadis kecil tahu bahwa kotor bukanlah sebuah warna, penyakit bukanlah bagian kota yang didiamin negro.” -Aibeleen

Jackson, Mississipi,1962

peraturannya jelas. jika kau berkulit hitam. maka kau punya toiletmu sendiri, kau punya piringmu sendiri dan kau punya koranmu sendiri. dan semuanya terpisah dari orang-orang kulit putih. duduk bersama di satu meja dianggap kejahatan, pernikahan antar ras dianggap haram, dan langgarlah batasan itu maka hidupmu dalam bahaya.

kulit hitam dan kulit putih tinggal bersama dalam sebuah negara yang katanya menjujung tinggi demokrasi, namun mereka bahkan tidak boleh saling bertukar buku.

tapi siapa manusia sehingga mereka bisa menentukan batasan seperti itu. siapa manusia sehingga bisa menentukan bahwa jika kulitmu berwarna maka kedudukanmu lebih rendah.

para pelayan kulit hitam di Jackson menerima batasan-batasan yang telah berlaku puluhan tahun seperti menerima bahwa manusia makan nasi dan roti. mereka melayani nyonya-nyonya kulit putih mereka yang merasa memiliki mereka tanpa banyak bicara. ibu mereka pelayan, nenek mereka budak, nenek buyut mereka pesuruh orang kulit putih. itulah kehidupan dan mereka bahkan tidak pernah bermimpi untuk mengubahnya.

Aibellen Clark menghabiskan hampir seluruh hidupnya menjadi pelayan. ia pandai mengasuh para bayi kulit putih. mereka semua mencintai Aibee dan Aibee mencintai mereka. Lalu kemudian mereka tumbuh persis seperti mama mereka.

Minny Jackson selalu ingat tujuh peraturan mamanya tentang menjadi pelayan bagi keluarga kulit putih. tapi mulutnya selalu bekerja lebih cepat sebelum ia selesai mengingat peraturan nomor tujuh mamanya, ‘Jangan Lancang’.Hingga suatu saat mulutnya telah membawa Minny pada keadaan di ujung tanduk.

Skeeter Phelan tahu ia akan terperangkap di Jackson, Mississipi seumur hidupnya. lebih tepatnya terperangkap di perkebunan kapas yang ada di pinggir kota yang menjadi rumah orang tuanya. ia mendambakan new York city yang glamor tempatnya bisa mewujudkan mimpinya sebagai penulis. keluar dari kota kecil yang terus-terusan mengingatkannya bahwa ia sudah 23 tahun dan belum menikah sementara teman-temannya sudah memiliki dua anak. menghilang dari tatapan sedih ibunya karena ia terus melajang dan menganggap itu karena ada yang salah pada dirinya.

ketiga wanita itu terperangkap dalam rutinitas mereka bahkan tanpa mereka sadari. lalu sebuah pertanyaan mengubah segalanya.

“pernahkah kau berharap bisa.. mengubah keadaan?”

sudah setengah abad sejak Martin Luther King berjuang agar kulit putih dan kulit hitam hanya menjadi sebuah warna dan bukan perbedaan derajat. namun isu itu tetap ada. bukan hanya warna kulitmu. Matamu, rasmu, agamamu, tebal dompetmu, dan siapa orang tuamu akan membedakan sikap seseorang terhadapmu bahkan sebelum mereka mengenalmu.

buku ini kembali mengangkat isu yang dikira orang sudah kadaluarsa puluhan tahun lalu. diceritakan dari sudut pandang tiga wanita dengan warna kulit berbeda namun sama-sama menginginkan perubahan.

walau berjalan lambat, perbedaan itu kini mulai diterima. jika tidak, mungkin kita akan mengenal barack obama sebagai buruh bangunan di kota kecil di amerika. atau Oprah sebagai pelayan bagi wanita kulit putih berkelas.

pertama-tama mari bahas judulnya. aku senang karena penerbit ga mengganti judul depannya jadi judul bahasa indonesia seperti yang disebut dalam buku. “sang pembantu”. entah kenapa agaknya agak kurang sreg aja dengernya. mungkin lebih baik kalau err..”sang penolong”? hehe

sekarang ke tokoh-tokohnya.
ada tiga tokoh utama dari cerita ini. Aibee yang ya ampun kaya malaikat banget.. trus ada miss skeeter yang sangat independen dan aku pikir malah dia yang paling banyak menderita di buku ini. ketiga dan yang paling aku suka adalah Minny!! haha, semuanya tentang minny (kecuali suaminya) itu lucu banget..

tapi, tokoh yang paling aku suka bukan mereka bertiga tapi…. Miss Celia Foote. ya ampun, sejak di film aku suka banget sama dia. gadis pirang dungu dari Kota bernama Sugar ditch yang ternyata tidak semanis namanya. entah kenapa buatku dia baik banget..atau kelewat dungu ya? beda-beda tipis ternyata..hehe
aku setuju pengarang ga buat dia temenan sama skeeter. ga cocok banget.. tapi kombinasi bodonya dia sama mulut besarnya minny itu kaya makan coklat yang ada permen meledaknya. salah satu best couple yang ada di buku..hehe

buat tokoh yang paling menyebalkan, semua orang mungkin pilih hilly, tapi aku jelas akan pilih elizabeth.entah siapa yg paling aku benci,dia atau ibunya.

beberapa bagian di buku bikin aku tahu kalo hilly itu istri yang mendukung penuh suaminya sepenuhnya dan ibu yang baik. tapi Elizabeth, tokoh mana yang lebih buruk daripada seorang ibu yang membenci anaknya sendiri dan menurutku dia lebih bodoh dari celia. paling tidak celia bisa berpikir sendiri..

satu hal yang sedih adalah gimana putusnya persahabatan Skeeter dan Hilly. aku agak kaget karena skeeter tega banget ngelakuin itu ke hilly. entah kenapa aku selalu sedih dengan kisah yang menceritakan terputusnya persahabatan karena mereka tumbuh dewasa. karena mereka akhirnya memandang dunia dari dua sisi berbeda dan akhirnya mengambil jalannya masing-masing.

bagian paling sedih di buku:
1. cerita Louvenia tentang Lou Anne
2. pas aibee cerita tentang salah satu anak asuhnya. aduh siapa namanya..Thomas kalo ga salah..
3. adegan constantine dengan papanya

mungkin ini harusnya masuk bagian buku sastra kaya to kill a mocking bird dan Huck finn.

huaaa mau baca to kill a mocking bird!

sudah nonton filmnya? bagusss..entah mana yang aku lebih suka, tapi yang jelas dua-duanya sama-sama cantik dan menyentuh.

bagian paling sedih di film:
pas Aibee ninggalin Mae Mobley.huaaa

Image

dan ya ampun, bajunya skeeter sama hilly bagus banget!! oya, setelah nonton film itu pasti jadi pengen punya cadillac haha..

ImageImage

4 thoughts on “Movie & book: The Help

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s