Book: To Kill a Mocking Bird (4.1/5)

To Kill a Mocking Bird: 4/5

hm, sulit sekali menulis review buku ini. tadinya sudah mau aku tinggalkan tapi, sayang juga kalo ga dilanjutin. kenapa sulit? karena sebenernya ini buku yang sangat bagus. selesai baca buku ini, kita akan dihinggapi berbagai pemikiran rumit tentang moral dan konsep keadilan yang ga ada habis-habisnya.

sayangnya, bisa dibilang penilaianku ‘biasa’ aja terhadap buku ini. masih tetep aku kasih bintang 4, tapi yah, as i said hundreds times before, my opinion in book is really depend on “the after-read effect” i feel. and again, i don’t feel it in this book.
sebenernya kecewa banget sih (lebih ke diriku sendiri) karena ga mendapatkan moment itu, soalnya semua temenku dan temen-temen di Goodreads juga kayanya heboh banget sama buku ini. Mungkin karna dari awal ekspektasiku sudah terlalu tinggi sama buku ini, jadi agak kecewa juga ya..
sorry, i know it’s a heartbreaker for all Atticus’s Fans..

kenapa ya? mungkin ceritanya agak kurang dramatis menurutku..kalo The Help kan ada bagian yang bener-bener dramatisnya. kalo mau dikit di ubah, ini versi dramatis versiku,ya: Atticus bela si cowo itu tanpa diminta sama siapapun karena dia sebenernya dulu pernah dirawat sama ibunya si cowo. ato apa kek..imajinasiku masih kurang.hehehe.

aku juga kurang bisa terkoneksi sama masing-masing tokohnya. dan sampai sekarang tetep ga percaya Scout itu masih 8 tahun.hehehe. eventhough i find myself fall in love with Bob Ridley’s character. aku selalluuuuu suka sama tokoh yang misterius dan ga jelas di awal. Berharap kita akan dibuat terkaget-kaget dengan twist di ending yang melibatkan tokoh ini.( Sayang sekali ga ada yang seperti itu di buku ini..Sorry, penyakit fantasy-fan.. )

tapi sumpah, aku suka banget bagian yang Bob Ridley jaitin celananya Jem, kasi selimut ke Scout dan pas dia masuk-masukin hadiah ke pohon. Dia ngingetin aku sama karakter novel-film lama yang agak creepy tapi sebenernya baik dan suka merhatiin gerak-gerik orang dari jendela. siapa ya contohnya? o iya, kaya Edward Scissorhand nya Tim Burton.

maybe i’ll say i learn 3 main things from this book:

1. what is democracy?
“Equal rights for all, special privileges for none”-Scout

pernah ga berpikir sejak kapan rasisme muncul? sejak kapan seseorang bisa menentukan rasnya lebih unggul dari orang lain?
but, is it true? is it true, there’s special race that already become special without even trying? is it true that there are certain people that born with awesomeness ala Po? haha. is it fair?
i’m gonna leave this question in your own mind..

aku sendiri kalo ditanya gitu bakal bingung jawabnya.. maybe i’ll say yes, for example like Joseph Gordon Levitt!! i don’t think he’s even trying to be awesome..Hahaha..sorry, just some crazy fan girl thoughts.

but, even if it’s real, bisakah hal itu dijadikan pembenaran untuk menindas orang lain? kaya food chain? yang kuat ga merasa bersalah makan yang lemah, karena well, mereka kuat.

I don’t know the answer either, everyone’s different i think. God makes ones stronger than others, ones brighter than others, which i’m sure for certain reasons, not to bullying the weaker one. Not just because He wants to, or just because He can. But, yah, well.. He can, right?

tau ga kadang aku berpikir kalo dunia ini bener-bener berputar. bahkan sampai kekuasaan dunia dan peradaban pun berputar. Dulu Mezir pernah jadi salah satu negeri dengan peradaban paling maju’kan? teknologi purba terbaik lahir di Mezir dan Timur Tengah. dan well, orang Mezir kan orang afrika juga.. kemudian Benua Eropa mulai bangkit dengan penjajahan-penjajahan mereka ke dunia timur. terus satu abad terakhir ini Amerika kukuh sebagai negara adi kuasa, dan sekarang sepertinya China dan negara-negara timur sudah mulai bangkit secara Ekonomi. isn’t it amazing? yang atas bisa jadi dibawah, yang bawah bisa di atas,pemimpin kini bisa jadi pelayan dan sebaliknya?

well, udah mulai ngawur nih, ayo2 focus!(see, how a hard thinker i am?)

tapi, aku dapet satu jawaban yang sangat indah di buku ini.
kalo, apapun status sosialmu, rasmu, kepercayaanmu, bahkan jenis kelamin, ada satu lembaga dimana semua orang akan diperlakukan sama rata, satu lembaga dimana ‘siapa’ dirimu tidak akan mengurangi konsekuensi yang harus ditanggung dari perbuatanmu.

lembaga itu bernama pengadilan.

kata-kata ini buat aku menyadari betapa sakral dan rapuhnya arti sebuah lembaga hukum. pernah ga sih kalian sadar betapa cantiknya kata-kata pengadilan? lembaga ini memberikan kepastian, memberi kita rasa aman, dan menjaga segala sesuatu berputar pada porosnya. it’s really blowing my mind..

“As you grow older, you’ll see white men
cheat black men every day of your life,
but let me tell you something and don’t you forget it – whenever a white man
does that to a black man, no matter who he is, how rich he is, or how fine a family he comes from, he is trash.”-Atticus

2. “Atticus, he was real nice.”

“Most people are, Scout, when you finally see them.”

aku pengen sekali bisa menerapkan konsep ini ke orang lain. Kadang aku masih suka terkaget-kaget liat orang berbuat sesuatu. But then i realize. it’s their defense mechanism. sometimes their past had taught them something, had hurt them. so now, when they are in the same situation, their unconscious mind, prevent them from the same harm. but maybe the action is too overreacting. Similar to allergy. And we all have experienced it. (walaupun itu ga bisa dijadiin excuse juga sih buat kita melakukan sesuatu yang salah..)

Also, it makes me realize that assumption is a bad thing. bagaimana asumsi dan prasangka dapat membutakan mata seseorang dan bagaimana dengan mudahnya itu menular ke orang lain seperti virus dan bertahan secara permanen berabad-abad.  Contohnya, kadang dari penampilan, kita bisa berasumsi tentang kepribadian seseorang, dan hal itu akan mempengaruhi sikap kita pada orang itu bahkan sebelum kita mengenalnya. But, don’t you realize kalo outside appereance itu manipulatif?

3. “Miss Jean Louise, stand up. Your father’s passin’.”

i learn that you are the richest person on earth when you give someone something that they cannot return it back.

jujur ini adegan yang paling aku suka dari buku ini. and it makes me shivering for a couple seconds. sadar ga betapa kuatnya kalimat yang diucapkan sang pendeta ke Scout. Hal ini bisa merangkum hampir keseluruhan point dari buku ini. Penghormatan kecil yang diberikan para orang kulit hitam itu, menunjukkan rasa hormat dan terima kasih yang luar biasa pada Atticus. aku selalu suka adegan-adegan dimana ada satu gerakan masal yang sesuai dengan hati nurani walau ada resikonya. contohnya pas di Hunger Games, pas Katniss gantiin Prim dan semua districk 12 kasi penghormatan tiga jari. Gosh.. i cried alot in that scene. and satu lagi di The Dark Knight, pas adegan dua kapal yang harus ngeledakin satu sama lain, tapi sang penjahat lempar remotenya ke laut. I love that scene very much!  it keeps making me think that we really have hope in this world, because:

“satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah hati nurani manusia”

ya ampun, review nya jadi panjang gila gini.. maybe aku ga bener-bener ga suka buku ini. Buku ini membuat pembacanya berpikir. and i love thinking!! hoho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s